A New World Coming, Identity Crisis

Alhamdulillah, saya baru saja menjalani prosesi wisuda kemarin. Yang saya rasakan adalah, tentu saja, bersyukur, bahagia, terharu, dan lega. Setidaknya satu kewajiban saya terhadap orang tua saya telah terlaksana. Namun di sisi lain saya merasa takut, bingung, dan cemas. Kebingungan ini bukan kebingungan biasa. Sebenarnya saya sudah merasakan kebingungan ini sejak saya menghadapi tugas akhir. Tapi saya hanya mendiamkannya saja. Saya pandai melakukannya, mengalihkan perhatian ke hal yang lain.  Kemudian kebingunan ini terus tumbuh, dikenyangkan oleh rasa takut, rasa tidak siap, dan keacuhan saya. Saya telah membodohi diri saya sendiri, menipunya dengan menganggap semua baik-baik saja. Bahkan saya tidak tahu apakah sebenarnya kebingungan itu, dan kenapa saya bingung?

Pluto

Saya bukan tipe orang yang berpikir untuk jangka waktu panjang. Saya lebih sering spontan. Prinsip saya adalah selalu ada solusi untuk semua masalah, walaupun kesulitan akan selalu ada. Saya menghadapi masalah dan tantangan dengan tangan mengepal, siap untuk meninju mereka. Saya akan kaget ketika masalah itu datang, karena saya tidak pernah bersiap untuk menyambut mereka, tapi ketika mereka datang, saya tidak akan menyerah. Kalau melihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya ini sebenarnya nekat. Lalu kenapa saya begitu ketakutan dengan kebingungan ini hingga saya menguburnya dalam-dalam dan membiarkan waktu membesarkannya? Bagaimana cara meninju kebingunan ini? Bagaimana cara meninju sesuatu yang kita tidak tahu itu apa?

Beberapa jam sebelum saya menulis tulisan ini, salah seorang sahabat saya menelpon, namanya Choiri. Banyak dari sifatnya yang saya kagumi, dan saya banyak belajar darinya. Sudah beberapa kali dia bercerita kepada saya mengenai masalah yang ia alami di tempat kerjanya, dan alhamdulillah sebagian sudah terselesaikan. Kami mengobrol cukup lama, kemudian pembicaraan kami mengarah pada suatu topik yang menyadarkan saya akan apa sebenarnya yang menjadi identitas kebingungan yang selama ini saya hindari. Mau jadi apa saya setelah ini?

Kebingungan itu seperti hantu, kadang terlihat, kadang tidak. Ia muncul saat orang bertanya, "Apa rencanamu setelah ini, Vo?". Coping mechanism saya setelah dihadapkan dengan pertanyaan itu pertama adalah detak jantung yang meningkat, sebagai respon dari saraf simpatik. Barangkali untuk memaksimalkan aliran oksigen ke bagian otak tempat saya menyimpan si hantu kebingungan itu dan mencoba untuk mengalahkannya. Respon yang ke-dua adalah kata-kata yang terbata-bata. Saya akan mengeksekusi jawaban standar yang selama ini saya anggap benar. Lebih tepatnya rangkaian kata yang seperti jembatan terputus-putus, tidak berguna dan tidak jelas bagaimana cara menyeberanginya, mungkin jelas bagi orang lain, tapi tidak untuk saya. "Aku pingin kerja dulu di rumah sakit. Lalu setelah itu menikah kemudian mungkin ambil S2."

Sejujurnya, bukan itu yang saya inginkan. Yang saya inginkan adalah bekerja dan berkeluarga. Tapi itu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, dan harus dicapai dengan niat dan cara yang terbaik. Satu hal akan menyeret hal yang lain, karena itulah harus dipikirkan matang-matang dan juga harus dalam jangka panjang. Berpikir untuk jangka waktu panjang, bukan hal yang mahir saya lakukan.

Semua ini mengakar lagi pada topik pembicaraan kami yang ke-dua, yaitu Siapa sebenarnya saya ini? Kontribusi apa yang ingin saya berikan? Saya ingin menangis. Pertanyaan itu begitu menusuk, rasanya dada ini sakit. Saya harus mulai dari mana? Apakah sudah terlalu terlambat bagi saya?
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

Sumber : https://rumaysho.com/1425-doa-nabi-musa-minta-dimudahkan-urusan-dan-ucapan.html
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

Sumber : https://rumaysho.com/1425-doa-nabi-musa-minta-dimudahkan-urusan-dan-ucapan.html

Selama ini saya terlalu kekanak-kanakan. Saya belum berteman baik dengan masa depan, saya tidak menggandengnya. Malah, saya menganggapnya sebagai hantu yang harus saya kurung. Saya berkenalan dengan besok, hanya untuk berkenalan lagi dengan lusa. Kenapa tidak berkenalan dengan satu tahun sekaligus?

Alhamdulillah, malam ini Allah swt masih berbaik hati mengingatkan saya. Melalui sahabat saya. Semoga ia selalu dalam lindungan Allah swt, banyak 'semoga' untuknya, saya akan menyimpannya dalam doa.

Kebingungan itu masih ada, tapi saya tidak akan mengurungnya lagi, saya juga tidak akan meninjunya, saya akan mencoba berkenalan dengannya. Semoga dengan ridha Allah swt.



sumber: https://rumaysho.com/1425-doa-nabi-musa-minta-dimudahkan-urusan-dan-ucapan.html


Saya suka Pluto karena:
- Dia susah ditemukan, setelah ditemukan dia dimasukkan dalam kategori planet, lalu dikeluarkan lagi, lalu butuh 9 tahun untuk melihat fotonya pertama kali, dan ternyata dia punya hati <3 (regio Tombaugh), banyak hal yang terjadi selama itu dan sejak ditemukan hingga sekarang dia belum menyelesaikan satu revolusi pun. Faktanya mungkin kita tidak akan hidup untuk menyaksikan Pluto menyelesaikan revolusi pertamanya setelah ditemukan, karena hal itu diperkirakan akan terjadi pada tahun 2178. Things happened but Pluto keeps going. Go go Pluto!

Comments

Popular Posts